PENANGANAN ANAK BERKESULITAN BELAJAR

oleh nur afifah

 

  1. Definisi Anak Berkesulitan Belajar

Anak berkesulitan belajar (learning diabilities), yaitu anak yang memiliki kesulitan belajar dalam proses psikologis dasar, sehingga menunjukkan hambatan dalam belajar berbicara, mendengarkan, menulis, membaca, dan berhitung, sedangkan mereka ini memiliki potensi kecerdasan yang baik tapi berprestasi rendah, yang bukan disebabkan oleh tunanetra, tunarungu, terbelakang mental, gangguan emosional, gangguan ekonomi, sosial atau budaya (Public Law 94-142, 1997; Delphie, B., 2006:27)

  1. Jenis-Jenis Kesulitan Belajar Definisi

Secara garis besar kesulitan belajar dapat diklasifikasikan ke dalam dua kelompok (Abdurahman, 2003:11), yaitu:

(a) kesulitan belajar yang berhubungan dengan perkembangan (developmental learning disabilities) dan (b) kesulitan belajar akademik (academic learning disabilities). Kesulitan belajar yang berhubungan dengan pekembangan mencakup gangguan motorik dan persepsi, kesulitan belajar bahasa dan komunikasi, dan kesulitan belajar dalam penyesuaian perilaku sosial. Kesulitan belajar akademik menunjuk pada adanya kegagalan-kegaglan pencapaian prestasi akademik yang sesuai dengan kapasitas yang diharapkan. Kegagalan-kegagalan tersebut mencakup penguasaan keterampilan dalam membaca, menulis, dan/atau matematika.

Dalam kesempatan ini kita akan membahas “Bagaimana Meangani anak berkesulitan belajar akademik?”. Berkesulitan belajar akademi sering disebut pula sebagaispecific learning disabilities.

ANAK BERKESULITAN BELAJAR MEMBACA

(DISLEKSIA)

Definisi Anak Bekesulitan Belajar Membaca

Disleksia menunjuk kepada anak yang tidak dapat membaca sekalipun penglihatan, pendengaran, dan intelegensinya normal (bahkan ada yang intelegensinya di atas rata-rata) serta keterampilan bahasanya sesuai. Disleksia ini akibat faktor neurologis

dan tidak dapat diatributkan pada faktor kedua misalnya lingkungan atau sebab-sebab sosial.

Karakteristik

    1. Membaca lamban, turun naik intonasinya, dan membaca kata demi kata,

    2. Sering membalik huruf dan kata-kata,

    3. Pengubahan huruf pada kata,

    4. Kacau terhadap kata-kata yang hanya sedikit berbeda susunannya misalnya: bau, buah, batu, buta,

    5. Sering menebak dan mengulang kata-kata dan frase.

Asesmen

Menandai letak kesulitan

Beberapa Kemungkinan Letak Kesulitan :

    • Kesulitan membaca atau memahami suatu kata

    • Huruf terbalik/tertukar

    • Penghilangan kata/suku kata

    • Menebak kata

    • Menambahkan kata

    • Pengulangan pembacaan

    • Lambat

    • Sulit menangkap isi bacaan

Catat hasil asesmen ke dalam format

Contoh Format Hasil Assessment

Nama:

Kelas:

Usia:

Tanggal:

No

Pola/Bentuk Kesalahan

Keterangan

1

2

3

4

5

6

7

8

Kesulitan membaca atau memahami suatu kata

Huruf terbalik/tertukar

Penghilangan kata/suku kata

Menebak kata

Menambahkan kata

Pengulangan pembacaan

Lambat

Sulit menangkap isi bacaan

  1. Aktifitas Penanganan

    1. Aktifitas pra membaca

Pengembangan Bahasa dan Bicara

  1. Mendemonstrasikan apa yang anak ingin kerjakan

  2. Menceritakan pada anak apa yang sedang ia lakukan

  3. Mendorong anak bercakap cakap

  4. Memperlihatkan kepada anak gambar yang menarik sehingga anak mampu mendeskripsikan dan menginterpretasikannya.

  5. Membaca dan menceritakan cerita pendek kepada anak

  6. Meminta atau memberi dukungan kepada anak untuk bercerita di depan kelas tetang situasi yang menarik yang dialami di rumah atau di tempat lain

  7. Membuat permainan telepon-teleponan

Pengembangan Fungsi Visual (lihat lampiran)

    1. Diskriminasi visual

    2. Persepsi visual

    3. Asosiasi visual

    4. Visual Closure

Pengembangan Fungsi Auditif (lihat lampiran)

  1. Diskriminasi auditif

  2. Persepsi auditif

  3. Asosiasi auditif

  4. Auditif Closure

    1. Aktifitas membaca

Pendekatan/metode Multisensori (VAKT)

      1. Guru memberikan kartu huruf dan mengucapkannya, anak menirukan apa yang diucapkan guru.

      2. Setelah nama huruf dikuasai anak, guru mengucapkan bunyi huruf dan anak mengikutinya. Selanjutnya guru menanyakan kepada anak,”Apa nama bunyi huruf ini?” anak lalu menyebutkan bunyinya

      3. Guru mengucapkan bunyi huruf, bagian kartu yang bertuliskan huruf tidak diperlihatkan kepada anak (menghadap ke guru). Kemudian guru memperlihatkannya dan menanyakan kepada anak tentang nama huruf tersebut, kemudian anak menjawabnya.

      4. Guru menuliskan huruf yang dipelajari, menerangkan dan menjelaskannya. Anak memahami bunyi, bentuk, dan cara membuat huruf dengan cara menelusuri huruf yang dibuat guru, kemudian menyalin huruf berdasarkan memorinya. Akhirnya anak menulis sekali lagi dengan mata tertutup atau tidak mencontoh. Setelah dikuasai betul oleh anak, guru melanjutkan dengan huruf lain. Bila siswa sudah menguasai beberapa huruf, kemudian dapat dilanjutkan dengan merangkai kata dengan pola KVK (Konsonan Vokal Konsonan).

ANAK BERKESULITAN BELAJAR MENULIS (HANDWRITING)

(DISGRAFIA)

Definisi Anak Disgrafia

Disgrafia mengacu kepada anak yang mengalami hambatan dalam menulis meskipun ia tidak mengalami gangguan dalam motoriknya, visualnya, dan intelegensinya normal, bahkan ada yang di atas rata-rata.

Hambatan ini juga bukan diakibatkan oleh masalah-masalah ekonomi dan sosial.

Karakteristik

  • Lambat ketika menulis

  • Kesulitan menggunakan spasi antar huruf atau antar kata

  • Tulisan tidak terbaca oleh orang lain dan dirinya sendiri

  • Tulisan terlalu tipis atau terlalu menekan

  • Sering menulis suatu angka atau huruf mirip dengan yang lain. Misalnya, 3 dengan 5, k dengan h, t dengan r.

Penanganan

  1. Asesmen

mengamati hal berikut ini: posisi duduk, cara memegang alat tulis, posisi kertas/buku, konsistensi tangan yang digunakan untuk menulis, kondisi emosi, motivasi, perilaku menolak untuk menulis.

Pola-pola kesalahan dalam menulis

Formasi huruf, ukuran huruf, posisi huruf dengan garis batas, spasi, kualitas garis, kecepatan menulis.

Catat dalam format

Nama:

Kelas:

Usia:

Tanggal:

No

Pola/Bentuk Kesalahan

1

2

3

4

5

6

7

8

9

10

11

12

13

14

15

16

posisi duduk,

cara memegang alat tulis,

posisi kertas/buku,

konsistensi tangan yang digunakan untuk menulis,

kondisi emosi,

motivasi,

perilaku menolak untuk menulis.

Formasi huruf,

ukuran huruf,

posisi huruf dengan garis batas,

spasi,

kualitas garis,

kecepatan menulis.

Tulisan tidak terbaca oleh orang lain dan dirinya sendiri

  1. Aktifitas Penanganan

FAKTOR KESIAPAN MENULIS

Menulis membutuhkan kemampuan kontrol muskular, koordinasi mata –tangan, dan diskriminasi visual.

  • Contoh aktivitas yang mendukung kontrol muskular: melatih otot gerak atas,menggunting, mewarnai gambar, finger painting dan tracing.

  • Kegiatan koordinasi mata – tangan seperti: membuat lingkaran dan menyalin bentuk-bentuk geometri.

  • Pengembangan diskriminasi visual dapat dilakukan dengan kegiatan membedakan bentuk, ukuran, dan detailnya sehingga anak menyadari bagaimana cara menulis suatu huruf.

AKTIVITAS LAIN YANG MENDUKUNG

    • Kegiatan yang memberikan kerja aktif dari pergerakan otot bahu, lengan atas – bawah, dan jari.

    • Menelusuri bentuk geometri dan barisan titik.

    • Menyambungkan titik.

    • Membuat garis horizontal dari kiri ke kanan.

    • Membuat garis vertikal dari atas ke bawah dan dari bawah ke atas.

    • Membuat bentuk-bentuk lingkaran dan kurva.

    • Membuat garis miring secara vertikal.

    • Menyalin bentuk-bentuk sederhana

    • Membedakan bentuk huruf yang mirip dan huruf yang bunyinya hampir sama.

HURUF LEPAS / CETAK (1)

      • Guru/ORTU memperlihatkan sebuah huruf yang akan ditulis

      • Guru/ORTU mengucapkan dengan jelas nama huruf dan arah garis untuk membuat huruf itu.

      • Siswa/anak menelusuri huruf itu dengan jarinya sambil mengucapkan dengan jelas arah garis untuk membuat huruf itu.

      • Siswa/anak menelusuri garis tersebut dengan pensilnya.

      • Siswa/anak menyalin contoh huruf itu di kertas/bukunya.

      • Jika cara ini sudah dikuasai siswa maka langsung dilanjutkan dengan menyambungkan titik yang dibentuk menjadi huruf tertentu. Sampai akhirnya siswa mampu membuat huruf dengan baik tanpa dibantu. Tahap selanjutnya adalah menulis kata dan kalimat.

PENGEMBANGAN KEMAMPUAN MENULIS HURUF LEPAS

  • Menyalin huruf/angka dengan bantuan tanda panah sebagai petunjuk arah menulis

  • Menulis huruf di antara garis huruf model

  • Menulis huruf pada kertas berpetak

  • Menyambungkan titik/garis putus-putus yang berbentuk huruf

  • Puzzle huruf kapital dan huruf kecil

  • Menulis huruf di kertas garis tiga

HURUF TRANSISI

Maksud dari huruf transisi adalah huruf yang digunakan untuk melatih siswa sebelum menguasai huruf sambung. Adapun langkah-langkah pengajarannya sbb:

    1. Kata/huruf ditulis dalam bentuk lepas/cetak.

    2. Huruf yang satu dengan huruf yang lain disambungkan dengan titik-titik dengan menggunakan warna yang berbeda.

    3. Siswa menelusuri huruf dan sambungannya sehingga menjadi bentuk huruf sambung.

HURUF SAMBUNG

Untuk mengajarkan huruf sambung dapat menggunakan langkah-langkah huruf lepas dan huruf transisi.

KESULITAN BELAJAR MATEMATIKA

(DISKALKULIA)

Definisi

Kesulitan belajar matematikan disebut juga diskalkulia (dyscalculia) (Lerner, 1988:430). Istilah diskalkulia memiliki konotasi medis yang memandang adanya keterkaitan dengan gangguan system saraf pusat.

Karakteristik

Menurut Lerner (1981:357) ada beberapa karakteristik anak berkesulitan belajar matematika, yaitu:

        1. Gangguan hubungan keruangan

Kesulitan dalam memahami konsep atas-bawah, puncak-dasar, jauh-dekat, tinggi-rendah, depan-belakang, dan awal-akhir. Sehingga anak tidak mampu merasakan jarak antara angka-angka pada garis bilangan atau penggaris, dan mungkin anak juga tidak tahu bahwa angka 3 lebih dekat ke angka 4 dari pada ke angka 6.

        1. Abnormalitas persepsi visual

Anak mengalami kesulitan untuk melihat berbaai objek dalam hubungannya dengan kelompok atau set. Misalnya kesulitan menjumlahkan dua kelompok benda yang masing-masing terdiri dari lima dan empat anggota. Anak semacam itu mungkin akan menghitung satu per satu anggota tiap kelompok lebih dahulu sebelum menjumlahkannya. Mereka juga sering kesulitan membedakan bentuk-bentuk geometri.

        1. Asosiasi visual-motor

Anak sering tidak dapat menghitung benda-benda secara berurutan sambil menyebutkan bilangannya.

        1. Perseverasi

Ada anak yang perhatiannya melekat pada suatu objek saja dalam jangka waktu yang relative lama. Contoh:

  1. + 3 = 7

  2. + 3 = 8

5 + 2 = 7

5 + 4 = 9

4 + 4 = 9

3 + 4 = 9

        1. Kesulitan mengenal dan memahami symbol

        1. Gangguan penghayatan tubuh

Anak kesulitan memahami hubungan bagian-bagian tubuhnya sendiri.

        1. Skor performance IQ jauh lebih rendah dibandingkan dengan skor verbal.

        2. Kekeliruan dalam proses perhitungan

          1. Kekurangan Pemahaman Tentang Simbol

Anak-anak belum memahami simbol-simbol dasar perhitungan seperti simbol jumlah (+), kurang (-), dan sama dengan (=).

    1. Nilai Tempat

Ketidak pahaman terhadap nilai tempat banyak diperlihatkan oleh anak seperti berikut ini:

75 68

27 – 13 +

58 71

Anak tidak memahami nilai tempat bilangan 7 pada bilangan 75, sehingga anak menghitung:

15 – 7 = 8 dan 7 – 2 = 5 (bilangan 7 harusnya berubah jadi 6), jadi hasilnya 58. jawaban yang benar seharusnya 48.

Pada soal 68 + 13, anak tidak menjumlahkan bilangan 1 puluhan sebagai hasil dari 8 + 3 = 11. Seharusnya 1 puluhan dijumlahkan dengan 6 + 1 (1+ 6 + 1 = 8). Sehingga jumlah yang benar adalah 81.

Anak yang mengalami kekeliruan semacam itu dapat juga karena lupa cara menghitung persoalan pengurangan atau penjumlahan bersusun ke bawah, sehingga kepada anak tidak cukup hanya diajak memahami nilai tempat tetapi juga diberi latihan yang cukup.

    1. Penggunaan Proses yang Keliru

Kekeliruan dalam penggunaan proses penghitungan dapat dilihat pada contoh berikut ini:

  1. Mempertukarkan simbol-simbol

6

2 x

8

Anak belum memahami simbol X (perkalian). Sehingga simbol X dianggap penjumlahan menjadi 6 + 2 = 8. Seharusnya 6 x 2 = 12.

15

3 –

18

Anak menganggap simbol pengurangan “–“ sebagai penjumlahan, sehingga 15 – 3 = 18, seharusnya 15 – 3 = 12.

  1. Jumlah satuan dan puluhan ditulis tanpa memperhatikan nilai tempat

83

67 +

1410

Kekeliruan yang terjadi adalah anak menghitung 3 + 7 = 10 kemudian 8 + 6 = 14, hasilnya 1410. Jawaban yang benar seharusnya adalah 150.

66

29 +

815

Anak menghitung, 6 + 9 = 15, kemudian 6 + 2 = 8, hasilnya 815. jawaban yang benar seharusnya adalah 95.

  1. Semua digit diambahkan bersama (algoritma yang keliru dan tidak memperhatikan nilai tempat

67 58

13 + 12 +

17 16

Anak menghitung: 6 + 7 + 3 + 1 = 17

5 + 8 + 1 + 2 = 16

  1. Digit ditambahkan dari kiri ke kanan dan tidak memperhatikan nilai tempat

476

851 +

148

Anak menghitung: menjumlahkan dari kiri ke kanan (4 + 7 + 6 + 1) = 18 kemudian 1 ditambahkan berhenti sampai disitu. Lalu diteruskan 1 + 5 + 8 = 14, seharusnya 1358

37

753

693 +

1113

Anak menghitung: menjumlahkan (7 + 5 + 3 + 6) seharusnya 21, tapi anak menulis 11 dan 1 ditambahkan dengan 9 + 3 = (1 + 9 + 3) = 13, anak menulis 1113, seharusnya 83.

  1. Dalam menjumlahkan puluhan digabungkan dengan satuan

68

8 +

166

Anak menghitung: 8 + 8 = 16, kemudian anak menulis 6 simpan 10. Lalu 10 + 6 = 16. Anak menulis hasilnya 166. jawaban yang benar adalah 76.

73

9 +

172

Kekeliruan yang terjadi adalah anak menhitung: 3 + 9 = 12, kemudian anak menulis 2 simpan 10. Lalu 10 + 7 = 17. Anak menulis hasilnya 172. Jawaban yang benar adalah 82.

  1. Bilangan yang besar dikurangi bilangan yang kecil tanpa memperhatikan nilai tempat

627

486 –

261

Kekeliruan yang terjadi adalah anak menghitung: 7 – 6 = 1, 8 – 2 = 6, 6 – 4 = 2. Sehingga anak menuliskan hasilnya 261. Jawaban yang benar adalah 141.

761

489 –

328

Kekeliruan yang terjadi adalah anak menghitung: 9 – 1 = 8, 8 – 6 = 2, 7 – 4 = 3. Sehingga anak menuliskan hasilnya 328. jawaban yang benar adalah 272.

  1. Bilangan yang telah dipinjam nilainya tetap

532

147 –

495

Kekeliruan yang terjadi adalah bilangan 3 dan 5 pada bilangan 532 tidak berubah/tetap padahal sudah dipinjam. Sehingga anak menuliskan hasilnya 495. Jawaban yang benar adalah 385

423

366 –

167

Anak merubah bilangan 2 dan 4 pada bilangan 423, padahal bilangan tersebut sudah dipinjam. Sehingga anak menuliskan hasilnya 167. Jawaban yang benar adalah 57.

    1. Jawaban Serampangan

Ada anak yang belum mengenal perkalian dengan baik tetapi menghapal perkalian tersebut. Hal ini dapat menimbulkan kekeliruan jika hapalannya salah, sehingga jawabannya serampangan. Kesalahan tersebut umumnya tampak sebagai berikut:

6 8

8 x 7 x

46 54

Contoh forma asesmen

Nama :

TTL :

Kelas :

Tgl. Asesmen :

No

Kemampuan

Keterangan

1

2

3

4

5

6

7

Gangguan hubungan keruangan

Abnormalitas persepsi visual

Asosiasi visual-motor

Perseverasi

Kesulitan mengenal dan memahami symbol

Gangguan penghayatan tubuh

Kekeliruan dalam proses perhitungan

Penanganan

      1. Menyiapkan anak belajar matematika

Pembelajaran pra berhitung meliputi klasifikasi, seriasi, korespondensi, dan konservasi (Piaget, 1965 dalam Mercer dan Mercer, 1989:188).

  1. Klasifikasi

Piaget (1965) yang dikutip oleh Mercer & Mercer (1989:188) mengatakan bahwa klasifikasi adalah satu dari banyak kegiatan-kegiatan intelektual dasar yang harus dikuasai sebelum belajar bilangan. Klasifikasi melibatkan hubungan persamaan, perbedaan, dan pengkategorisasian (categorizing) obyek menurut sifat-sifat khususnya. Copeland (1979; dalam Mercer & Mercer, 1989) mengatakan bahwa banyak anak-anak yang menguasai keterampil­an pengklasifikasian pada usia 5-7 tahun.

Klasifikasi dapat mencakup: (a) mengelompokan berdasarkan warna, yaitu mengelompokkan dua warna, mengelompokkan tiga warna dan mengelompokkan empat warna; (b) mengelompokan berdasarkan bentuk yaitu mengelompokkan bentuk lingkaran, bentuk segitiga, bentuk segiempat dan bentuk segipanjang; (c) mengelompokan berdasarkan ukuran, yaitu mengelompokan objek ukuran kecil, obyek yang sedang dan obyek yang besar.

  1. Ordering (Mengurutkan) dan Seriasi

Ordering (mengurutkan) adalah kemampuan mengurutkan obyek berdasarkan tipe atau pola tertentu sehingga ada pemetaan hubungan dari urutan. Misalnya, (a) anak mengurutkan pola X – O – X – O – X – …. (b) mengurutkan obyek berdasarkan pola warna, misalnya mengurutkan 3 pola warna dan mengurutkan 4 pola warna, (c) mengurutkan obyek berdasarkan pola bentuk, contohnya mengurutkan 3 pola bentuk dan mengurutkan pola 4 bentuk.

Sedangkan seriasi adalah menyusun obyek berdasarkan ukurannya mulai dari yang terpendek sampai yang paling panjang atau dari yang terkecil sampai yang terbesar (Homdijah, 2004:193).

Ordering dan seriasi menjadi aspek pra berhitung karena berkaitan dengan sifat bilangan dalam aritmatika/berhitung yang memiliki sifat keteraturan yang disusun secara terpola dan berurut. Buktinya, yaitu bilangan itu di susun mulai dari nilai yang terkecil sampai yang terbesar: 1 kemudian 2, setelah 2, 3 dan seterusnya (1, 2, 3, 4, dan seterusnya). Urutan bilangan itu pun berseri. Satu seri terdiri dari sepuluh bilangan dan disusun dari yang terkecil sampai yang terbesar. Misalnya, 1 sampai 10, 11 sampai 20 dan seterusnya.

  1. Korespondensi

Korespondensi adalah keterampilan memahami jumlah satu set obyek pada suatu tempat adalah sama banyaknya dengan satu set obyek pada tempat yang lain tanpa menghiraukan karakteristik obyek tersebut (Mercer dan Mercer, 1989:189).

Contoh pada aspek ini misalnya; (a) anak menilai jumlah obyek yang sama tapi ukuran obyek itu berbeda (10 biji kancing kecil dalam satu gelas dengan 10 biji kancing besar dalam gelas yang lain); (b) menilai jumlah dua obyek yang berbeda (2 pencil dengan 2 pulpen ); (c) menghubungkan antara isi/nilai dengan lambang bilangan (gambar satu telur dihubungkan dengan lambang bilangan 1, gambar 5 buah apel dihubungkan dengan lambang bilangan 5.

Keterkaitan aspek korespondensi dengan keterampilan berhitung adalah menanamkan konsep pada anak bahwa adanya hubungan antara isi/nilai dengan lambang bilangan, sehingga anak mampu menghubungkan antara isi dan lambang bilangan. Meskipun lambang bilangan itu ditulis besar-besar tetapi isi/nilainya tetap. Lambang bilangan 1 artinya memiliki isi/nilai satu. Oleh karena itu dalam korespondensi ini pun anak dilibatkan dalam aktifitas menghubungkan antara lambang bilangan dengan isi/nilainya.

  1. Konservasi

Konservasi adalah banyaknya obyek dalam satu tempat atau satu kelompok akan tetap konstan meskipun letaknya berubah (Mercer dan Mercer, 1989:189).

Konservasi mencakup; (a) konservasi jumlah yaitu konservasi jumlah dalam 5 obyek, konservasi jumlah dalam obyek dan konservasi jumlah dalam 9 obyek; (b) konservasi berat, yaitu konservasi berat (bulat dan pipih) dan konservasi berat (opal dan spiral); (c) konservasi isi, yaitu konservasi isi tentang air (posisi vertical) dan konservasi isi tentang air pada dua tempat yang berbeda; (d) konservasi luas yaituobyek sama, posisi berbeda dan obyek sama, bentuk berbeda.

      1. Maju dari kongkrit ke Abstrak

Pengajaran pada tahap kongkrit adalah proses pengajaran yang dilakukan dengan mengaktifkan alat sensoris dengan cara memanipulasi obyek. Pada tahap belajar seperti ini mutlak harus menggunakan media pembelajaran (alat peraga). Sebagai contoh, dalam menjelaskan konsep bilangan. Proses belajar dimulai dari memanipulasi obyek seperti balok-balok, kelereng, gelas, cangkir dan sebagainya. Anak diperkenalkan dengan benda-benda itu, lalu didemonstrasikan, misalnya, jumlah obyek yang banyak dengan yang sedikit, balok yan jumlahnya satu dengan balok yang jumlahnya dua dan seterusnya. Kegiatan pada tahap ini belum diperkenalkan dengan simbol-simbol angka.

Pengajaran pada tahap semi kongkrit adalah proses yang dilakukan dengan menggunakan media gambar dari benda kongkrit. Misalnya gambar apel, telur, gelas, kelereng, dan sebagainya.

Semi abstrak adalah proses pengajaran yang dilakukan dengan media gambar yang obyek tidak mewakili benda kongkrit, misalnya jumlah lingkaran yang lebih banyak dibandingkan dengan jumlah lingkaran yang lebih sedikit. Menghitung jumlah gambar segitiga, sgi empat, lingkaran, dan lain-lain.

Tahap abstrak adalah pengajaran yang langsung menggunakan simbol-simbol angka (lambang bilangan) seperti angka 1, 2, 3, dan seterusnya.

      1. Menyediakan kesempatan untuk berlatih dan mengulang

Tinggalkan komentar

Filed under Uncategorized

Penanganan Masalah Belajar Anak Autisme Melalui Pendidikan Integrasi

Latar Belakang
Masalah Pada tahun 2005 terjadi peningkatan jumlah anak berkesulitan belajar, terutama penyandang autisme. Mengingat di Negara kita belum ada upaya yang sistimatis untuk menanggulangi kesulitan belajar anak autisme, maka diperlukan upaya untuk meningkatkan pelayanan pendidikan secara umum. Peningkatan pelayanan pendidikan itu diharapkan dapat menampung anak autisme lebih banyak serta meminimalkan problem belajar terutama pada anak-anak autisme (learning problem). Salah satu upaya meningkatkan kualitas dan kuantitas pelayanan dan pendidikan anak autisme diperlukan pendidikan integrasi dan implementasinya dalam bentuk group/kelas (sekolah), individu (one on one) serta pembelajaran individual melalui modifikasi perilaku.
Pendidikan Integratif
Konsep pendidikan integratif memiliki penafsiran yang bermacam-macam antara lain:

  • Menempatkan anak autisme dengan anak normal secara penuh
  • Pendidikan yang berupaya mengoptimalkan perkembangan fungsi kognitif, efektif, fisik, intuitif secara integrasi

Menurut pandangan penulis, yang di maksud dengan pendidikan integratif adalah :

  • Mengintegrasikan anak autisme dengan anak normal sepenuhnya
  • Mengintegrasikan pendidikan anak autisme dengan pendidikan pada umumnya
  • Mengintegrasikan dan mengoptimalkan perkembangan kognisi, emosi, jasmani, intuisi, pada autisme
  • Mengintegrasikan apa yang dipelajari disekolah dengan tugas masa depan
  • Mengintegrasikan manusia sebagai mahluk individual sekaligus mahluk sosial

Hasil pengamatan di lapangan menunjukkan bahwa banyak anak autisme yang belajar bersama anak normal, tetapi mereka tidak memperoleh pelayanan pendidikan secara memadai atau mereka tidak mendapatkan sekolah dengan alasan yang tidak jelas. Penyebabnya adalah kurangnya sumber daya manusia dan banyak tenaga ahli yang belum memiliki pengetahuan yang cukup tentang anak autisme atau rasio penyelenggaraan yang sangat mahal, sehingga masih sedikit sekolah yang mau menerima anak autisme karena berbagai alasan diatas. Menyelenggarakan pendidikan integrasi disekolah merupakan kemajuan yang baik, tetapi tidak semudah membalikkan tangan. Namun kita harus berani memulai supaya anak autisme mendapat tempat dan penanganan yang terbaik.
Dimanakah Anak Autisme Harus Sekolah
Komunitas autisme di Jakarta sudah mencapai populasi yang besar dan belum ada sisitem pendidikan yang sistematis. Kalaupun ada biayanya mahal atau belum ada sekolah yang benar-benar sesuai. Tidak ada yang salah dalam situasi ini, baik lembaga, orang tua atau para ahli, mengingat masalah autisme ini masih tergolong baru. Penulis hendak menekankan dengan pemikiran yang sederhana tentang penanganan pendidikan autisme secara benar, dapat digunakan oleh semua kalangan, serta dapat membantu memberikan gambaran anak ini akan dibawa kemana. Kondisi yang harus kita terima sangat berat pada saat anak kita divonis autisme seakan semua pintu telah tertutup, semua jalan jadi buntu, semua kesempatan sudah terlambat. Hanya mukjizat yang akan datang dari Allah. Keadaan yang berat timbul pada saat mengetahui anak kita mengalami hambatan dalam perkembangan dan pertumbuhan dan saat anak memiliki cukup umur harus masuk sekolah.
Beberapa lembaga pendidikan (sekolah) yang selama ini menerima anak autis adalah sebagai berikut;

  • Anak Autis di sekolah Normal dengan Integrasi penuh
  • Anak Autis di sekolah Khusus
  • Anak Autis di SLB
  • Anak Autis hanya menjalani terapi.

Biasanya sebelum sekolah anak-anak ini sudah mendapatkan penanganan dari berbagai ahli seperti : dokter syaraf, dokter specialis anak (Pediatri), Psikologi, Terapi wicara, OT, Fisioterapi,Orthopedagog (Guru khusus). dengan perkembangan dan perubahan sendirisendiri, ada yang maju pesat tapi ada yang sebaliknya. Menurut saya, kebanyakan orang tua penyandang autisme menginginkan sekolah sebagai status anak, tetapi jangan bersikap tidak realistis dengan tidak berbuat apa-apa karena mengintegrasikan anak autisme dengan anak normal secara penuh harus dengan suatu konsep, perhitungan yang matang dan kerja keras.
Kebanyakan sekolah juga belum memiliki jawaban yang baik untuk saat ini. Yang ada orang tua dan guru-guru sekolah harus bekerja sama, bersikap terbuka, selalu komunikasi untuk membuat perencanaan penanganan dengan tehnik terbaik. Langkah-langkah penerimaan oleh sekolah:

  • Tentukan jumlah anak autisme yang akan diterima misal, dua anak dalam satu kelas dan lain-lain.
  • Lakukan tes untuk melihat kemampuan serta menyaring anak
  • Setelah tes, wawancara orang tua untuk melihat pola pikirnya, apa tujuan memasukkan anak ke sekolah.
  • Buatlah kerangka kerja dan hasil observasi awal.
  • Susun bagaimana mengatur evaluasi anak dalam hal: siapa yang
    bertanggung jawab mengawasi, menerima complain, periode laporan perkembangan dan lain-lain.
  • Buatlah kesepakatan antara orang tua dan sekolah bahwa hasil yang dicapai adalah paling optimal.

Parameter Apakah Yang Dapat Membantu

NO
EVALUASI
A
B
C

Akademis

1
Berhitung 1-10, 1-20 baik dengan atau tanpa papan, irama dan dan ketukan wajar, maju dan mundur

2
Mampu mengidentifikasi dan menulis angka

3
Mengenal semua bentuk dengan cepat

4
Mengenal warna dengan cepat

5
Mampu mengenal semua bentuk huruf dengan cepat

6
Mampu mendeskripsikan suatu topik tunggal / sederhana

7
Mampu menggambarkan sederhana

8
Mampu mengingat 2-3 digit, membedakan benda yang sejenis

9
Mampu memilih obyek dan gambar yang hampir sama

10
Mampu mengenal simbol-simbol sederhana

11
Bahasa yang dia pakai dapat kita mengerti atau sebaliknya

12
Mampu membedakan arak kiri, kanan, atas, dan bawah

13
Memberikan jumlah yang kita minta antara 1-9

Ketrampilan sosial dan tingkah laku

1
Prilaku kontrol diri dalam lingkungan

2
Kontak mata

3
Perhatian dan Konsentrasi

4
Kemampuan Mendengarkan

5
Diam dan Menunggu

6
Berbagi giliran dengan teman

7
Berkunjung ( Visiting)

8
Mengirim Pesan sederhana

9
Menjawab Pertanyaan sederhana yang berhubungan dengan identitas dirinya

10
Merespon perintah sederhana yang familiar dan sering digunakan dalam aktivitas sehari- hari

11
Mengenal orang dan tempat yang familiar

Keterampilan Berkomunikasi

1
Kemampuan dasar berinisiatif

2
Mampu mengekspresikan kebutuhan-kebutuhan dasar anak

3
Menyatakan ya atau tidak yang berhubungan dengan pribadi anak

4
Kemampuan memilih

Pelaksanaan Aktivitas sehari-hari

1
Toilet raining

2
Makan dengan sendok dan garpu

3
Mampu memakai celana, jaket, baju, sepatu tanpa bantuan

4
Mengancingkan baju

5
Merawat dan memperhatikan barang sendiri

6
Mandi dan menggosok gigi


Keterangan:

A: Mampu / Mandiri/ excellent
B: di arahkan/ dibantu minimal
C: di bantu penuh
Jika anak kita (Autis) menguasai ketrampilan antara
- A = 25 < 34 Termasuk anak yang ringan (mild)/High Function
- A = 15 < 24 Termasuk anak yang sedang/sedang (Severed)
- A Kurang dari 15 Termasuk anak yang berat (Low Function)
Dengan parameter diatas kita akan mampu mengidentifikasi anak-anak dengan lebih akurat, bukan menitik beratkan pada berat dan ringan kondisi anak, akan tetapi untuk memudahkan pihak-pihak yang bersangkutan dan orang tua agar mengerti apa yang harus dilakukan, guru mampu membuat program dengan akurat untuk anak, lembaga dapat menyeleksi anak sesuai kapasitas dan kebutuhan. Anak-anak autis ringan seperti: asperger, ADHD, ADD, memungkinkan untuk di intergrasikan penuh dengan anak normal karena biasanya anak- anak ini memiliki kecerdasan dan kemampuan yang cukup.
Untuk mengintegrasikan anak ini ada hal-hal lain yang dapat dijadikan pertimbangan:

  • Seberapa besar gangguan/kekacauan yang dapat timbul karena anak autis ini.
  • Berapa persentase dari kurikulum yang dapat digunakan dan dijangkau oleh anak autis.
  • Seberapa siap tenaga ahli/guru menangani dan mengelola kelas yang di dalamnya terdapat anak autis

Tinggalkan komentar

Filed under Uncategorized

tes

tes

Tinggalkan komentar

Filed under Uncategorized

Hello world!

Welcome to WordPress.com! This is your very first post. Click the Edit link to modify or delete it, or start a new post. If you like, use this post to tell readers why you started this blog and what you plan to do with it.

Happy blogging!

1 Komentar

Filed under Uncategorized